Senin, 16 Mei 2011

Mengapa Inovasi..?

oleh Ferry Dzulkifli Latief  from Commision for the Supervision of Business Competition (KPPU) pada 01 November 2010 jam 14:04
Beberapa waktu terakhir ini saya seolah sedang bergelut dengan bacaan seputar kewirausahaan dan inovasi. Dewasa ini kedua isu tersebut semakin menjadi  penting di dunia bisnis dan 'development', khususnya menghadapi perubahan ekonomi global yang cepat dan bahkan tidak menentu. Sebenarnya kedua hal ini telah lama menjadi pembahasan penting di kalangan ekonom, pemikir dan praktisi manajemen, biarpun inovasi seringkali berasosiasi dengan teknologi.   



Di banyak negara kondisi krisis ekonomi malah memicu keinovasian. Bahkan di AS tingkat inovation and entrepreneurial activity yang dilakukan oleh para individu, organisasi bisnis dan pemerintah dilaporkan meningkat. Berdasarkan pengalaman yang lalu, kedua hal tersebut selalu memicupertumbuhan ekonomi. Ini seperti hukum Tuhan .. 'fa innama'al 'usri yusraan'. Dibalik kesulitan ada kemudahan, kira2 itu tafsir bebasnya.  

Ekonom besar seperti Joseph Schumpeter hingga pemikir manajemen modern Peter F Drucker menekankan bahwa inovasi dan kewirausaahan telah menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi. Para ahli lainnya bersepakat bahwa agar suatu organisasi ingin lestari (sustained) maka pemilik dan manajer organisasi itu harus menyemai keinovasian dan kewirausahaan disana. Cerita kasus tentang P&G, 3M, McDonald, Toyota, dan Li & Fung adalah cerita-cerita lama mengenai kesediaan para pemilik dan manajemen dalam menyiapkan iklim yang kondusif bagi munculnya inovasi dan kewirausahaan. 

Saat ini telah banyak anak-anak muda yang tertulari kedua virus tersebut. Hal ini tidak lain karena telah semakin banyak kesempatan yang tersedia akibat kebebasan yang semakin terbuka. Sementara bagi existing company, setiap hari mereka dihantui pertanyaan 'innovate or die?'. 

Bagaimana di tingkat sebuah bangsa? Bangsa adalah aggregat dari unsur-unsur komponen bangsa. Dalam konteks inovasi nasional, maka ia adalah aggregat dari innovation activity yang dilakukan oleh individu, dunia bisnis dan organisasi publik termasuk universitas, LSM dan lembaga litbang. Sudahkah pemerintah secara sadar dan sengaja menyemai semangat keinovasian bangsa ini? Disinilah pentingnya kebijakan inovasi -pada beberapa hal ditambahkan dengan kebijakan kewirausahaan-. Pada level bangsa kebijakan yang kondusif akan menyemai keinovasian dan kewirausaahan nasional. Itulah yang dilakukan oleh banyak negara, misalnya dalam bentuk Entrepreneurship Policy dan National Innovation System.

Beberapa bulan lalu kita telah memiliki Komite Inovasi Nasional (KIN) yang terbentuk bareng dengan Komite Ekonomi Nasional (KEN). KIN diketuai oleh Prof Zuhal, sementara KEN diketuai oleh pengusaha Chairul Tanjung. Kehadiran kedua lembaga ini sangat relevan guna menjawab isu-isu inovasi dan kewirausahaan. Biarpun terbentuknya kedua lembaga ini diprakarsai oleh pemerintah namun yang perlu diperhatikan adalah -sebagaimana pengalaman2 di bantak negara- pelaku terbanyak inovasi dan kewirausaahan adalah sektor swasta. Peran pemerintah tetap penting khususnya dalam menyemai semangat di kalangan birokrasi dan perbaikan layanan, seperti yang disebut oleh David Osborne sebagai 'reinventing government' (terjemahan bebas sesuai bukunya -mewirausahakan birokarasi).

Pemerintah sendiri sebagaimana disampaikan oleh Wapres Boediono ketika menyampaikan sambutannya pada Business Summit IKA ITS lalu, menekankan pentingnya  keterkaitan antara perguruan tinggi sebagai pengembang teknologi dengan kalangan bisnis. Perguruan tinggi menghasilkan teknologi melalui invention and innovation. Sementara dunia usaha mewujudkan hasil temuan dan inovasi tadi melalui industri. Perkawinan antara inventor dan inovator dengan business person menghasilkan apa yang disebut Wapres sebagai industrialist. Ini semakin penting ketika sektor riil menurun dan terjadi deindustrialisasi.

Dalam kesempatan terpisah saat membuka The 2nd Indonesia International Conference on Innovation, Entrepreneurship and Small Business sebulan berikutnya, Wapres Boediono menambahkan bahwa pemerintah akan memikirkan bagaimana menyediakan pembiayaan (baca: anggaran) untuk kegiatan  inovasi dan kewirausahaan. Disini langkah-langkah awal sepertinya sudah dimulai. Ada baiknya kita semua mengingatkan bahwa kita tidak boleh berhenti di langkah-langkah awal. Artinya, pemerintah harus serius dan berkomitmen, sementara kalangan non pemerintah termasuk dunia usaha harus terus menyemai dan menumbuhkan semangat inovasi dan kewirausahaan pada diri dan organisasi mereka. Sementara pemerintah setidaknya, sekali lagi setidaknya, fokus pada perbaikan layanan dan penyediaan lingkungan bisnis yang kondusif yang dapat mempercepat tumbuhnya inovasi dan kewirausaahan. Michael E Porter, pemikir daya saing yang terkenal itu menyampaikan bahwa inovasi menjadi pilar utama dayasaing suatu bangsa yang akhirnya berujung pada kemakmuran bangsa.

Jadi mengapa kita perlu menganggap penting inovasi? Karena ia akan berujung pada kemakmuran.

0 komentar:

Posting Komentar